Pelecehan Seksual di Dunia Olahraga: Panggilan Menpora untuk Perbaikan Sistem
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengutuk tindakan pelecehan seksual yang dialami atlet di cabang olahraga panjat tebing dan kickboxing. Ia menyebutnya sebagai perbuatan yang tidak seharusnya ada dalam ekosistem olahraga.
Baca juga: Putri Kusuma Wardani Raih Medali Perunggu di Kejuaraan Dunia BWF 2025
Dalam pernyataannya, Erick menegaskan pentingnya perlindungan hukum bagi atlet yang telah berjuang keras selama latihan dan kompetisi. Tindakan yang diperlukan untuk memastikan keadilan bagi semua pihak adalah suatu keharusan.
Erick menjelaskan bahwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh pelatih di cabang olahraga panjat tebing dan kickboxing adalah tindakan kriminal yang merugikan atlet. "Atlet itu sudah berkorban, tidak hanya sekolah, latihan, meninggalkan orang tua, tapi kok dizalimi dan ini sebuah hal-hal yang jahanam," tuturnya.
Ia juga memberikan dukungan penuh terhadap penyelidikan yang sedang berlangsung, sambil tetap mengedepankan prinsip praduga tak bersalah. Selain itu, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) telah mengambil inisiatif dengan memberikan sanksi kepada terduga pelaku.
Baca juga: Zumba: Tren Olahraga yang Memadukan Hiburan dan Kebugaran
Dalam konteks perlindungan atlet, Erick menyarankan perlunya kolaborasi antar federasi olahraga untuk mencegah pelecehan seksual. Hal ini sejalan dengan Program Safeguarding yang diusung oleh Komite Olimpiade Indonesia (KOI). "Kami sebagai pemerintah tentu mendukung segala bentuk upaya perlindungan terhadap atlet yang memang harus dilakukan," ujarnya.
Menpora berharap agar insiden pelecehan seksual tidak terulang dalam dunia olahraga. Untuk itu, ia menekankan pentingnya sistem perlindungan yang kokoh agar atlet merasa aman saat berlatih dan bertanding.
Menpora juga mengapresiasi keberanian atlet yang melaporkan dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Langkah ini dianggap perlu untuk mendorong introspeksi dan perbaikan dalam sistem pelatihan di setiap federasi.
Penting untuk memastikan bahwa semua sistem pelatnas dan proses latihan berjalan tanpa adanya pelecehan. Erick menekankan bahwa meskipun masalah ini mungkin sudah ada sejak lama, sering kali hal-hal ini ditutup-tutupi demi menjaga citra federasi.
Baca juga: Marc Marquez Mikirkan Gelar Juara Dunia MotoGP 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: