Penelitian Mengungkap Risiko Kanker Usus pada Pelari Jarak Jauh
Sebuah studi dari American Society of Clinical Oncology (ASCO) menunjukkan bahwa pelari jarak jauh intensif berisiko tinggi mengalami advanced adenomas, polip usus yang berpotensi menjadi kanker.
Baca juga: Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional
Dalam analisis terhadap 100 pelari marathon dan ultramarathon berusia 35 hingga 50 tahun, hampir 50% peserta ditemukan memiliki polip, dan 15% di antaranya terdeteksi memiliki advanced adenomas.
Penelitian ini mengungkapkan tingkat prevalensi advanced adenomas mencapai 15% pada pelari marathon, jauh lebih tinggi daripada populasi usia 40-49 tahun yang hanya berkisar antara 1,2% hingga 6%. Dr. Timothy L. Cannon, seorang onkolog di Inova Schar Cancer Institute, menyatakan, 'Setelah bertemu tiga atlet ekstrem dengan kanker usus besar stadium IV sebelum usia 40 tahun, saya mulai curiga ada kaitannya.'
Temuan lebih lanjut menunjukkan bahwa 30% partisipan mengalami perdarahan rektal, khususnya di antara mereka yang memiliki advanced adenomas. Insiden ini menunjukkan perbandingan 53% pada pelari dengan polip berbahaya dibandingkan 22% pada mereka tanpa lesi.
Baca juga: Miliano Jonathans Siap Bela Timnas Indonesia Setelah Proses Pemindahan Kewarganegaraan
Para peneliti mencatat bahwa selama berlari jarak jauh, aliran darah dialihkan ke otot kaki, menyebabkan usus mengalami kekurangan suplai darah (iskemia). Kondisi ini memicu peradangan serta kerusakan sel, yang berpotensi meningkatkan risiko mutasi seluler.
Aspek pola makan pelari juga turut menjadi sorotan. Dr. Cannon mengungkapkan, 'Banyak pelari mengonsumsi bar dan gel ultra-proses, minum dari botol plastik jauh lebih sering, dan sepertiga peserta bahkan vegetarian atau vegan.'
Meskipun hasil penelitian ini menarik, Dr. Thomas F. Imperiale, profesor gastroenterologi dari Indiana University, mencatat adanya keterbatasan dalam metodologi. Ia mengatakan bahwa 'Patokan perbandingan prevalensi adenoma lanjut sebesar 1,2% didasarkan pada data kolonoskopi skrining dari 25 tahun yang lalu.'
Dr. Hamed Khalili dari Harvard Medical School juga menambahkan pentingnya studi berskala lebih besar untuk mengonfirmasi hasil ini, mengingat 'Ukuran sampelnya kecil, jadi tidak jelas apakah perbedaan yang diamati hanyalah masalah pengambilan sampel.'
Baca juga: Marc Marquez Mikirkan Gelar Juara Dunia MotoGP 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: